Langsung ke konten utama

Postingan

ENAM PULUH DETIK

     Hari ini, mulai kembali memetik harapan. Setelah dalam waktu seminggu meninggalkan rumah dan berlanjut tiga hari bertemu dengan satu teman baru. Berpacu di jalan, bermalam di hutan berselimut dingin, angin yang berjalan tanpa permisih serta kabut tebal yang turun tak mengenal waktu istirahat. Malam ini, di tengah keadaan yang kurang membaik, perasaan timbul khawatir kepada perempuan yang tak berbentuk, menyesali akan sikap kekakuan. Dalam hitungan tiga malam, rasanya begitu cepat bersama kalian, namun menyadari bahwa di luar sana kita mempunyai tanggung jawab masing – masing yang tidak bisa di lepas. Yang kembali menuju kampus ingin cepat memakai toga, yang kembali ke dunia kerja ingin semua tugas nya terselesaikan dan yang berstatus penganggur ingin segera mendapatkan sebuah pekerjaan layak.      Memutuskan dalam beberapa hari kedepan untuk tidak keluar rumah, berpergian kesuatu tempat atau mendaki gunung adalah sikap. Dewasa ini, memang rumit. M...

PERGI KELUAR SEBENTAR

Siang kemarin, matahari menunjukan jati dirinya,  menunggu kedatangan si kuda besi yang terkenal sesak saat harinya pekerja tiba. Kota yang menjadi tujuan utama para perantau yang menaruh harap untuk hidup lebih baik. Sungguh melegakan saat kota ini sedang beristirahat, terlihat indah dengan gedung – gedungnya yang tinggi, trotoar yang sepi dari para pejalan angkuh, udara di sekitar yang terasa menyegarkan, lalu lalang kendaraan bersama asap hitamnya itu sejenak menghilangkan kepanikan para penyebrang jalan, kota ini seketika terlihat tersenyum dan bernapas lega saat libur tahunan datang.  Menaruh harap dengan moment seperti ini rasanya sia – sia karena butuh waktu sebentar saja dalam hitungan hari kota ini akan kembali disibukkan dengan aktifitasnya yang padat.      Libur telah usai, disaat penghuni kota ini mulai kembali serta menceritakan segala hal tentang libur panjangnya itu kepada teman di sampingnya, memposting sebuah unggahan di media sosial yang men...

DI TERTAWAKAN MASA KECIL

Sejak kecil memang suka beradaptasi dengan alam, ruang lingkup yang asri dengan pemandangan sawah lepas serta pepohonan rindang menjadi salah satu wadah bermain atau melepas lelah setelah pulang sekolah ataupun mengisi kegiatan lain. Saat pagi tiba, kami anak – anak desa waktu itu gemar sekali bermain bola selapas itu pergi ke sawah untuk mencari ikan atau permainan yang lain. Hal yang lucu dari masa kecil kami, tidak pernah lepas dari dunia kemah – kemahan. Pernah suatu ketika membuat suatu gubuk perkemahan karna kecerobohan menaruh lilin api akhirnya kebakaran. Bagi kami kejadian seperti itu sudah biasa, jadi kami siap antisipasi dengan cara memadamkan api dan membangun kemah kembali. Namanya juga anak kecil hal semacam itu terkadang menjadi bahan lucu – lucuan atau kemungkinan saat dewasa nanti bisa menjadi bagian dari pemadam kebakaran karna masa kecil kami suka memadamkan kebakaran gubuk kemah – kemahan, namun sampai dewasa ini belum ada yang terlihat menjadi salah satu anggota ...

BERAWAL DARI SWISS VAN JAVA

Kedua orang tua saya lahir di Jawa, hampir setiap tahun dua kali atau lebih, saya terbiasa ikut MUDIK istilah lainnya “Pulang ke kampung halaman”. Diselingi berkunjung tempat – tempat sejarah, pantai, serta kuliner – kuliner tradisional khas daerah itu sendiri. Sejak kecil saya menyukai klub sepakbola asal Jakarta berawal dari sang pelatih yang mantan pemain kala itu sampai akhirnya saya lebih suka datang menyaksikan secara langsung laga kandang maupun tandang ke stadion. Sampai pernah saya kehabisan ongkos di Jepara, Jawa Tengah untuk pulang ke Jakarta, selapas menonton salah satu tim kebanggaan saya itu. Namun saya sangat berterimakasih kepada Ibu warung makan sederhana samping terminal yang telah menolong saya bersama teman saya kala itu, walaupun sampai saat ini saya sudah lupa letak warungnya yang setiap kali saya berkunjung ke daerah Jawa sudah tidak nampak bangunannya. Sudah   tidak heran kalau saya sangat mencintai dunia Traveling, di Cap Bengal oleh keluarga karna berp...

KISAH ROY

Pernah seorang kawan bercerita tentang kisah cintanya dengan si puan, tragis tak kunjung usai, trauma yang mendalam pada cinta pertamanya itu. Setelah bertahun – tahun menjalani hari dengan melamun, sampai saat senyuman, canda tawa mulai terbangun. Kawan saya tersadar bahwa semuanya yang ia sesali tidak akan berbuah hasil. Menjalani kisah cinta pertama dengan si puan memang penuh perjuangan, terutama dari sudut keluarga kawan saya yang berbanding jauh dengan puan yang terlahir tajir. Waktu itu, di tegur oleh ibu dari si puan “Kalau kamu sayang dengan anak saya, lebih baik kamu tinggalkan” ucap ibu puan kepada kawan saya. Hujan turun deras pada malam itu, rasa lelah seharian berpergian dengan puan yang sedang sibuk dengan karya tulis sebagai tugas akhir dari kampus. Kawan ku bernama Roy, hidup sederhana dan serba keterbatasan biaya. Maklum ayah hanya seoarang supir dan ibu bekerja sebagai pembantu rumah tangga di dekat rumah. Keinginan sang ayah untuk menyekolahkan Roy sampai ting...

OH POLITIK

Saya tidak terlalu memahami tentang dunia politik, mungkin dari sebagian orangpun mengalami hal yang sama seperti saya. Banyak dari sekolah, universitas atau instansi lain yang mempelajari dan memperdalam ilmu politik untuk dapat mengetahui bahkan terjun langsung ke dalamnya, artinya untuk generasi selanjutnya bisa membangun politik yang bersih. Namun nyatanya politik secara langsung masih terlihat kotor, ada sebuah kepentingan pribadi di dalamnya, hasrat untuk mengusai dan ingin di pandang orang banyak. Di zaman yang serba canggih sekarang ini banyak media saling beradu domba, pro dan kontra selalu di hadirkan di tengah – tengah tanpa ada solusi. Terus berkelanjutan sampai jadi trending topik untuk merauk keuntungan. Segala cara di cari dan di gali, sungguh ekstrimis memang mencari surga dari sudut yang kotor. Pemilu mengajarkan saya arti politik yang kotor mungkin dalam konteks yang tidak luas. Bagi sebagian masyarakat mungkin sudah tidak asing dengan SUAP PILIH (di beri uang s...

RUMAH SAKIT TEMPAT ORANG - ORANG SAKIT

Februari 2018 tak berkesan, kabar dari kerawang tentang kecelakaan. Pong adalah ade sepupu Saya, belum beberapa lama bekerja di salah satu Perusahaan ternama di Karawang. Jarak bukan jadi masalah baginya untuk menata masa depan, mempunyai pengalaman dan niat untuk membahagiakan kedua orang tua. Namun sial, musibah melanda dirinya yang baru merasakan empat bulan di dunia kerja. Tepat tiga hari setelah ulang tahun Saya. Pong mendapatkan musibah menabrak truk setelah sepulang kerja. Saya bergegas menuju Rumah Sakit. Menurut kabar dari rekan sekantornya yang menolong Pong saat kejadian; “Tidak ada saksi mata ditempat kejadian. Kita bersama rekan – rekan yang lain melihat sudah tak sadarkan diri dan tubuhnya tergeletak di badan belakang truk”. Nasi sudah menjadi bubur. Pong, harus menjalani Operasi dua tahap dibagian Kepala. Keluarga di persilahkan menandatangani berkas yang disediakan dan beberapa masukan oleh Dokter yang menanganinya. Proses operasi berjalan lancar walaupun waktu ...