Saya
tidak terlalu memahami tentang dunia politik, mungkin dari sebagian orangpun
mengalami hal yang sama seperti saya. Banyak dari sekolah, universitas atau
instansi lain yang mempelajari dan memperdalam ilmu politik untuk dapat
mengetahui bahkan terjun langsung ke dalamnya, artinya untuk generasi selanjutnya bisa membangun politik yang bersih. Namun nyatanya politik secara langsung masih terlihat kotor, ada sebuah
kepentingan pribadi di dalamnya, hasrat untuk mengusai dan ingin di pandang
orang banyak.
Di
zaman yang serba canggih sekarang ini banyak media saling beradu domba, pro dan
kontra selalu di hadirkan di tengah – tengah tanpa ada solusi. Terus
berkelanjutan sampai jadi trending topik untuk merauk keuntungan. Segala cara
di cari dan di gali, sungguh ekstrimis memang mencari surga dari sudut yang
kotor.
Pemilu
mengajarkan saya arti politik yang kotor mungkin dalam konteks yang tidak luas. Bagi
sebagian masyarakat mungkin sudah tidak asing dengan SUAP PILIH (di beri uang
suruh memilih). Bagi saya, ini adalah hal yang tidak wajar. Dalam dunia politik
SUAP menjadi arwah yang selalu menggatayangi setiap yang terjun ke dalamnya.
Teman saya adalah ketua dari suatu organisasi tertinggi dalam suatu kampus,
suatu ketika beliau di tawarkan untuk menggelar aksi dengan dalih mendapatkan
komisi. Namun saya tidak membahas lebih dalam tentang kelanjutan cerita itu karna terikat perjanjian,
dia hanya menjelaskan cerita di akhir tentang ketua organisasi dalam suatu
kampus yang tingkatannya nomer satu di kampus tersebut dan mempunyai andil
besar dalam pergerakan, yang setiap datang kekampus berpakaian rapih jas,
pantofel serta rambut klimisnya itu, dia orang – orang yang menerima SUAP. Tapi
entahlah, saya tidak menghiraukan, selama di kampus saya tidak pernah terlibat
dalam organisasi tingkat tinggi itu apalagi memperhatikan orang - orangnya.
Sejak
di bangku kuliah, saya lebih suka mengikuti organisasi di luar, dari golongan
seporter bola sampai pecinta alam. Mungkin bisa dikatakan kalau konteks kecil
dari politik kotor itu bermain dalam organisasi yang saya ikuti. Salah satunya
pemilihan ketua, sama kaya halnya pemilu besar. Selain bertanggung jawab atas
berjalannya organisasi dengan baik ternyata tugas lain dari seorang ketua
adalah KORUP. Maka banyak orang – orang penting yang berwawasan licik berlomba
– lomba untuk menjadi ketua dalam instansi apapun menerapkan prinsip seperti
itu.
Saya
memutuskan untuk keluar dari kedua organisasi yang saya ikuti. Saya memilih
untuk menjadi diri sendiri, berguna untuk orang banyak, menolong, dan
berpetualang. Bagi saya, uang tidak selalu membuat orang bahagia, uang hanya
membuat orang menjadi berhati – hati. Politik yang kotor sebab karna uang, baik
SUAP atau KORUP adalah pengambilan HAK yang tidak dilandasi akal sehat.
Saya
bingung memilih pemimpin yang bersih sekarang itu seperti apa. Sebab secara
pandang mata semua terlihat bersih dari pakaian sampai tutur bicara.