Langsung ke konten utama

OH POLITIK


Saya tidak terlalu memahami tentang dunia politik, mungkin dari sebagian orangpun mengalami hal yang sama seperti saya. Banyak dari sekolah, universitas atau instansi lain yang mempelajari dan memperdalam ilmu politik untuk dapat mengetahui bahkan terjun langsung ke dalamnya, artinya untuk generasi selanjutnya bisa membangun politik yang bersih. Namun nyatanya politik secara langsung masih terlihat kotor, ada sebuah kepentingan pribadi di dalamnya, hasrat untuk mengusai dan ingin di pandang orang banyak.
Di zaman yang serba canggih sekarang ini banyak media saling beradu domba, pro dan kontra selalu di hadirkan di tengah – tengah tanpa ada solusi. Terus berkelanjutan sampai jadi trending topik untuk merauk keuntungan. Segala cara di cari dan di gali, sungguh ekstrimis memang mencari surga dari sudut yang kotor.
Pemilu mengajarkan saya arti politik yang kotor mungkin dalam konteks yang tidak luas. Bagi sebagian masyarakat mungkin sudah tidak asing dengan SUAP PILIH (di beri uang suruh memilih). Bagi saya, ini adalah hal yang tidak wajar. Dalam dunia politik SUAP menjadi arwah yang selalu menggatayangi setiap yang terjun ke dalamnya. Teman saya adalah ketua dari suatu organisasi tertinggi dalam suatu kampus, suatu ketika beliau di tawarkan untuk menggelar aksi dengan dalih mendapatkan komisi. Namun saya tidak membahas lebih dalam tentang kelanjutan cerita itu karna terikat perjanjian, dia hanya menjelaskan cerita di akhir tentang ketua organisasi dalam suatu kampus yang tingkatannya nomer satu di kampus tersebut dan mempunyai andil besar dalam pergerakan, yang setiap datang kekampus berpakaian rapih jas, pantofel serta rambut klimisnya itu, dia orang – orang yang menerima SUAP. Tapi entahlah, saya tidak menghiraukan, selama di kampus saya tidak pernah terlibat dalam organisasi tingkat tinggi itu apalagi memperhatikan orang - orangnya.
Sejak di bangku kuliah, saya lebih suka mengikuti organisasi di luar, dari golongan seporter bola sampai pecinta alam. Mungkin bisa dikatakan kalau konteks kecil dari politik kotor itu bermain dalam organisasi yang saya ikuti. Salah satunya pemilihan ketua, sama kaya halnya pemilu besar. Selain bertanggung jawab atas berjalannya organisasi dengan baik ternyata tugas lain dari seorang ketua adalah KORUP. Maka banyak orang – orang penting yang berwawasan licik berlomba – lomba untuk menjadi ketua dalam instansi apapun menerapkan prinsip seperti itu. 
Saya memutuskan untuk keluar dari kedua organisasi yang saya ikuti. Saya memilih untuk menjadi diri sendiri, berguna untuk orang banyak, menolong, dan berpetualang. Bagi saya, uang tidak selalu membuat orang bahagia, uang hanya membuat orang menjadi berhati – hati. Politik yang kotor sebab karna uang, baik SUAP atau KORUP adalah pengambilan HAK yang tidak dilandasi akal sehat.
Saya bingung memilih pemimpin yang bersih sekarang itu seperti apa. Sebab secara pandang mata semua terlihat bersih dari pakaian sampai tutur bicara.