Siang kemarin, matahari menunjukan jati dirinya, menunggu kedatangan si kuda besi yang terkenal sesak saat harinya pekerja tiba. Kota yang menjadi tujuan utama para perantau yang menaruh harap untuk hidup lebih baik. Sungguh melegakan saat kota ini sedang beristirahat, terlihat indah dengan gedung – gedungnya yang tinggi, trotoar yang sepi dari para pejalan angkuh, udara di sekitar yang terasa menyegarkan, lalu lalang kendaraan bersama asap hitamnya itu sejenak menghilangkan kepanikan para penyebrang jalan, kota ini seketika terlihat tersenyum dan bernapas lega saat libur tahunan datang. Menaruh harap dengan moment seperti ini rasanya sia – sia karena butuh waktu sebentar saja dalam hitungan hari kota ini akan kembali disibukkan dengan aktifitasnya yang padat.
Libur telah usai, disaat penghuni kota ini mulai kembali serta menceritakan segala hal tentang libur panjangnya itu kepada teman di sampingnya, memposting sebuah unggahan di media sosial yang menandakan suatu kebanggaan dengan menipu si penglihat agar terlihat mewah dengan kenyataannya memelas agar terlihat miskin saat mendaftar sekolah. Kota ini memang penuh dengan munafiknya ketimbang kejujuran. Tak adalagi cinta dalam setiap benak penghuni kota yang ada hanya upah seberapa besar bisa membayar.
Bagi para lulusan baru mulai mengalami keresahan tentang sebuah pekerjaan yang belum didapat, kesehariannya hanya mengirim sebuah CV melalui email ataupun aplikasi pendukung. Menunggu panggilan siluman dari notifikasi telepon genggamnya itu, menaruh harap agar diijinkan mempresentasikan diri dan dapat diterima, sisanya terbungkus sial karna tertipu informasi. Telinga terasa panas ketika orang tua menanyakan kapan mulai bekerja dengan maksud untuk masa depan, pacar yang mulai mengeluh segera di nikahkan, tuntutan hidup yang semakin hari semakin tinggi biayanya ditambah kemajuan teknologi yang makin canggih.
Berdesakkan di dalam sebuah gerbong besi saat itu rasanya ingin buru – buru saja sampai ditujuan. Melihat sekeliling yang disibukkan dengan memegang masing – masing telepon genggamnya, tersenyam senyum sendiri seperti orang gila. Adapula si pembaca buku yang menundukan kepala dengan kacamatanya yang tebal, si pelamar baru yang sedang merapihkan bawaan dan penampilan agar terlihat menarik saat presentasi, anak sekolah dengan botol minum di samping tasnya, serta para pasukan ngantuk yang meneruskan tidur. Sedangkan saya bersama ransel besar yang menjengkelkan itu menjadi perhatian seisi gerbong. Stasiun demi stasiun di lalui hingga akhirnya tiba di stasiun akhir, keringat yang bercucuran menandakan bahwa pendingin udara di dalam gerbong itu nampaknya tidak berpengaruh ditambah dengan mengejar waktu pemberangkatan kreta berikutnya, menaiki jasa ojeg yang antusias melewati kerumunan kendaraan lain.
Setelah merapihkan barang bawaan di bagasi yang berada diatas tempat duduk, berdampingan dengan penumpang lain yang mempertemukan dengkul kaki antara satu sama lain dengan pelayanan petugas, fasilitas serta waktu tepat yang baik menandakan kreta api kelas ekonomi saat ini menunjukan jauh lebih maju dari tahun – tahun sebelumnya. Menikmati segelas kopi di kantin gerbong, menikmati perjalanan dengan pemandangan persawahan dibalik layar kaca, tak lupa mendengarkan sebuah lagu dari pria yang selalu memakai topi bergambar bintang satu, begitu juga dengan gitar hitamnya yang selalu menemani saat pentas, kelahiran blora 1984 yang banyak menyuarakan persoalan lingkungan dan alam, kurang lebih liriknya seperti ini;
“Makin hari makin susah saja menjadi manusia yang manusia. “Kiri dikira komunis, Kanan di cap kapitalis, keras di katai fasis, tengah di nilai tak ideologis, muka klimis katanya necis, jenggotan dikatai teroris, bersorban dibilang ke arab – araban, bercelana levis dibilang kebarat – baratan, diam dibilang pasif, lantang dikatai supersif, memilih kere salah, ingin kaya sangatlah susah, belum berhasil di hina, sukses jadi omongan tetangga”. Sepertinya menjadi manusia adalah masalah buat manusia”. Lirik dalam lagu ini mengingatkan saya akan sulitnya menjadi manusia yang bebas, menyadari betapa sulitnya menghargai sebuah perbedaan. Di zaman yang sekarang krisis menghargai sebuah peredaan semakin marak, menjadi diri sendiri untuk ikuti kata hati sangatlah sulit, konflik dimana – mana, hal kecil di besar – besarkan dan seseorang enggan menerima karena tidak sama.
Di ruangan lebar 2 – 3 meter dengan panjang 10 – 15 meter beratap dan berdinding besi, menikmati waktu demi waktu yang berlalu, sesekali berdiskusi dengan penumpang lain membahas tentang perjalanan saya kali ini. Sesekali pemuda yang nampak se usia dengan saya itu, menceritakan banyak soal kota yang nanti saya singgahi sementara, tentang nasib menjadi orang perantau meninggalkan sanak keluarga di Kebon Jeruk, majikan yang baik hatinya dan soal pacar yang merengek rindu bertemu.
Surabaya di sepertiga malamnya itu, masih nampak sepi, hanya ada satu warung kopi dan pangkalan becak motor tepat di pintu keluar depan stasiun. Menyempatkan waktu untuk menseruput kopi serta cemal cemil bersama bapak – bapak tukang becak motor, mendengar keluh kesah tentang hadirnya transportasi online yang membuat pendapatan mereka menurun. Bertemu dengan sepasang suami istri nampak usianya menginjak 50 tahun, yang bernasib sama dengan saya karna tiket kreta api menuju probolinggo sudah habis shubuh itu. Kami memutuskan bersama mencari transportasi lain, dengan memesan jasa transportasi online menuju terminal Purabaya Sidoarjo sebelum lanjut menggunakan Bus menuju Probolinggo, sepasang suami tua itu banyak cerita tentang keponakannya yang bekerja sebagai dokter dekat tempat tinggal saya, kisah percintaannya semasa muda dengan sang istri sekarang dan tentang kesukaannya mengisi hari libur mendaki gunung saat di bangku kuliah. Naik turun kendaraan umum, sangatlah melelahkan bersamaan dengan beban perbekalan yang cukup berat, serta gangguan para calo – calo terminal yang licik menambah kejengkelan saat itu.
Beruntunglah pagi hari ini sangat cerah, setelah beristirahat tadi malam dan banyak bercengkrama di desa terakhir sebelum menyusuri hutan dengan sesepuh desa rasanya bangun pagi saat itu sayang untuk di sia – siakan, merapihkan segala persediaan, mengecek ulang, berbelanja perbekalan yang kurang, sarapan pagi tipe prasmanan sederhana yang super murah meriah dan mengenyangkan. Memulai perjalanan terpanjang dengan penuh perhitungan, kondisi yang fit dengan kesiapan yang matang. Lima hari di dalam hutan ditambah dua hari berada di dalam angkutan rasanya begitu cepat, menyelesuri kesunyiaan, kedamaiaan, keindahan, kedamaian, mengetahui peninggalan sejarah, suasana mistis serta bertemu orang – orang baru sangatlah menyenangkan hati. Namun apadaya, kembali ke kota fana itu sebuah keharusan demi tanggung jawab dalam menyusun hidup dan masa depan. Saya teringat kepada seorang yang ditinggalkan temannya saat dilanda sakit, tentang orang – orang dengan tingkah laku gilanya saat menghibur, tentang perempuan yang makannya lahap, tentang perjalanan malam itu bersama seorang yang menganut ilmu kejawen, tentang rombongan mahasiswa abadi dikampus, tentang sispala dengan candaannya yang garing bersama dengan sesi dokumentasi tak berkesudahan, tentang nasib seorang mahasiswa yang telah selesai dengan mendapatkan gelarnya namun belum juga mendapatkan pekerjaan, tentang seorang perempuan yang gemar membakar sampah untuk membuat perapian bersamaan dengan seorang lelaki yang giat mencari kayu bakar, dan masih banyak lainnya.
Argopuro memberi kesan yang tak akan terlupakan, seperti berada di dalam sekolah, alam raya adalah bukti kita mendapatkan segala wawasan serta ilmu tanpa disadari sangatlah berguna untuk di terapkan dalam kehidupan sehari – hari. Tak lupa mengucapkan syukur kepada tuhan yang maha esa yang telah memberikah kemudahan serta keselamatan kembali ke rumah, kepada orang tua atas segala doa yang tulus walaupun nampak keresahan pada raut wajah saat pamit pergi dari rumah, teman seperjuangan yang mendoakan serta menyemangati bersamaan dengan seorang perempuan yang pada saat itu sedang merasa sakit, walaupun pesan semangat untuknya terbaca telat karna signal buruk. Perjalanan ini sebagai bukti mematahkan bahwa dalam menjalankan sebuah sesuatu didasari dengan niat serta kesiapan yang cukup, keberhasilan akan di genggam.