Langsung ke konten utama

KISAH ROY


Pernah seorang kawan bercerita tentang kisah cintanya dengan si puan, tragis tak kunjung usai, trauma yang mendalam pada cinta pertamanya itu. Setelah bertahun – tahun menjalani hari dengan melamun, sampai saat senyuman, canda tawa mulai terbangun. Kawan saya tersadar bahwa semuanya yang ia sesali tidak akan berbuah hasil.
Menjalani kisah cinta pertama dengan si puan memang penuh perjuangan, terutama dari sudut keluarga kawan saya yang berbanding jauh dengan puan yang terlahir tajir. Waktu itu, di tegur oleh ibu dari si puan “Kalau kamu sayang dengan anak saya, lebih baik kamu tinggalkan” ucap ibu puan kepada kawan saya. Hujan turun deras pada malam itu, rasa lelah seharian berpergian dengan puan yang sedang sibuk dengan karya tulis sebagai tugas akhir dari kampus.
Kawan ku bernama Roy, hidup sederhana dan serba keterbatasan biaya. Maklum ayah hanya seoarang supir dan ibu bekerja sebagai pembantu rumah tangga di dekat rumah. Keinginan sang ayah untuk menyekolahkan Roy sampai tingkat tinggi Universitas akhirnya tercapai. Setelah menjalani satu sampai dua semester Roy mendapatkan teman dekat yaitu Ana hingga akhirnya mereka memutuskan untuk mengikat kisah cinta berdua.
Selama di jenjang kuliah, Roy tidak mempunyai kendaraan pribadi. Jadi pulang pergi ke kampus ataupun bertemu dengan Ana, Roy menggunakan transportasi umum itupun kalau mempunyai uang. Jika tidak, Roy memang mudah bergaul dengan siapa saja, terkadang ia mencari barengan atau sekedar minta tolongpun direspon dengan teman – temannya.
Menjalin kasih dengan Ana memang sangat menyulitkan bagi Roy dengan tingkah Ana yang manja dan banyak mau, walaupun Ana telah mengetahui kondisi Roy itu seperti apa. Sebagai seorang lelaki itu pantang untuk di rendahkan apalagi harga dirinya di injak – injak. Mungkin semua orang merasakan hal yang sama di saat posisinya seperti Roy. Suatu ketika Roy meminjam sepeda motor dan uang untuk bertemu serta mengajak jalan Ana kesuatu tempat, alasannya untuk merayakan hari jadi mereka yang ke dua bulan. Saat di perjalanan sebagian uang Roy hilang, akhirnya setelah sampai ke tempat tujuan terpaksa Roy puasa untuk membahagiakan ana dengan uang pas – pasan nya itu. Dengan sikapnya yang santai, seperti tidak ada masalah, berbagai alasan untuk menutupi pun di keluarkan. Karna bagi Roy melihat ana tersenyum dan bahagia saja sudah membuat perut yang terasa lapar menjadi kenyang.
Roy memang pandai dan cerdas, buktinya ia mendapat beasiswa di tempat kuliahnya. Kedekatan Roy dan Ana memang berawal saat mengerjakan tugas bareng dan ana pun terkadang meminta bantuan dengan Roy untuk sekedar mengerjakan tugasnya itu. Hingga pada suatu ketika Roy mengorbankan waktu untuk Ana sampai lupa kalau hari itu batas akhir mengumpulkan tugas dan akhirnya telat mengumpulkan dengan berat hati mengulang semester depan pilihannya.
Roy memang tidak terlalu romantis seperti kebanyakan cowo lainnya yang mengajak kekasihnya berpergian keluar negeri, menginap di hotel berbintang dengan fasilitas VVIP, memberi suatu yang harganya wah, dan memanjakan dengan fasilitas yang katanya biaya tidak menjadi masalah yang terpenting pelayanan terbaik. Namun, rasa cinta dan sayangnya kepada Ana jauh lebih mahal dari VVIP.
Ana pernah diajak ke suatu tempat dimana tempat tersebut sangat indah dan alami, sederhana namun nyaman, walaupun butuh perjuangan ke tempat itu. Namun dengan kearifan masyarakat setempat yang menyambut kedatangan Ana dan Roy, cukup membuat Ana merasa kalau di sela – sela kebahagiaan, terselip kebisuan yang merindukan kebahagiaan itu seperti apa. Hal yang tidak pernah di lupa dari Roy adalah melihat hujan bintang pada malam hari dengan ana, di tengah – tengah kekosongan, kesunyian, suara angin dan jeritan kebahagiaan binatang malam. Mereka saling berbagi cerita tentang apa – apa yang akan terjadi di depan pada mereka, bahwa Roy akan selalu ada untuk ana. Ana pun tersipu dan memeluk Roy hingga lelap.
Tiba pada suatu hari yang tidak biasa, Ana yang terlihat oleh Roy adalah gadis lugu dan manja ternyata masih menyimpan rasa cinta dengan mantan kekasihnya dahulu. Dengan pendirian melepaskan bukan berarti tidak cinta dan sayang akhirnya Roy mengalah tanpa banyak alasan. Lebih baik terbuang, di sisi lain membenahi diri untuk bangkit daripada terus mengejar tapi tertusuk rasa sakit. Pada akhirnya, Ana menikah dengan si mantan kekasihnya dahulu.
Saya senang kembalinya Roy ke tongkrongan dengan canda tawanya yang khas, serta berbagi cerita selama ia di Goa mengalami keterpurukan seperti apa rasanya. Memang cinta itu buta tidaklah salah, yang salah adalah diri kita yang lupa akan kasih sayang dan kebutuhan pada diri sendiri. Terkadang apa yang kita perjuangkan belum tentu berarti, kita terlalu sibuk bagaimana cara membuat bahagia yang pada akhirnya diri kitapun tidak bahagia. Terlalu sayang yang berlebih juga tidak baik, karna segala sesuatu yang berlebihanpun juga tidak baik. Jangan pernah menganggap kita orang - orang yang terbuang, sebaliknya yang terbuang itu punya semangat lebih untuk bangkit, punya ambisi untuk lebih baik, jika kita mau intropeksi diri dan memperbaiki kesalahan.