Langsung ke konten utama

BERAWAL DARI SWISS VAN JAVA


Kedua orang tua saya lahir di Jawa, hampir setiap tahun dua kali atau lebih, saya terbiasa ikut MUDIK istilah lainnya “Pulang ke kampung halaman”. Diselingi berkunjung tempat – tempat sejarah, pantai, serta kuliner – kuliner tradisional khas daerah itu sendiri. Sejak kecil saya menyukai klub sepakbola asal Jakarta berawal dari sang pelatih yang mantan pemain kala itu sampai akhirnya saya lebih suka datang menyaksikan secara langsung laga kandang maupun tandang ke stadion. Sampai pernah saya kehabisan ongkos di Jepara, Jawa Tengah untuk pulang ke Jakarta, selapas menonton salah satu tim kebanggaan saya itu. Namun saya sangat berterimakasih kepada Ibu warung makan sederhana samping terminal yang telah menolong saya bersama teman saya kala itu, walaupun sampai saat ini saya sudah lupa letak warungnya yang setiap kali saya berkunjung ke daerah Jawa sudah tidak nampak bangunannya. Sudah  tidak heran kalau saya sangat mencintai dunia Traveling, di Cap Bengal oleh keluarga karna berpergian tanpa pamit, alasannya kalau pamit pasti tidak diijinkan. Tapi jangan di contoh karna restu dari kedua orang tua dan keluarga itu sangat penting di suatu perjalanan.
Tahun 2012 Garut menjadi destinasi pertama bersama ke- tiga sahabat saya yaitu; ALIP BA TA untuk mendaki gunung. Sempat tidak terbayang sebelumnya bagi saya untuk mendaki gunung karena tidak mempunyai bekal dan pengalaman dan alasan lain timbul “Buat apa ke gunung ? toh di kota lebih banyak yang kita dapati”. Berawal dari BA yang baru menyelesaikan pendakian pertamanya di Gunung Ciremai dan akhirnya saya mulai tertarik untuk mencobanya dari berbagai cerita yang dikemas oleh si BA tentang mendaki gunung serta manfaat. Mungkin dari sini pula saya menyukai kegiatan luar ruang (Mendaki Gunung). ALIP BA TA dan saya mulai merencanakan pendakian ke gunung Papandayan. Perkembangan teknologi memang sangat bermanfaat jika digunakan secara baik dan benar, dari situ pula saya mendapatkan berbagai sumber informasi yang tidak diketahui serta menjadi tahu dalam dunia mendaki gunung walaupun hanya sekedar dasar. Gunung Papandayan adalah gunung api strato yang terletak di Kabupaten Garut, Jawa Barat tepatnya di Kecamatan Cisurupan. Gunung dengan ketinggian 2665 meter di atas permukaan laut itu terletak sekitar 70 km sebelah tenggara Kota Bandung. Pada Gunung Papandayan, terdapat beberapa kawah yang terkenal. Di antaranya Kawah Mas, Kawah Baru, Kawah Nangklak, dan Kawah Manuk. Kawah-kawah tersebut mengeluarkan uap dari sisi dalamnya. Topografi di dalam kawasan curam, berbukit dan bergunung serta terdapat tebing yang terjal. Menurut kalisifikasi Schmidt dan Ferguson termasuk type iklim B, dengan curah hujan rata-rata 3.000 mm/thn, kelembaban udara 70 – 80 % dan temperatur 10 °C.
Saya bersama ALIP BA TA mulai melengkapi perlengkapan yang dibutuhkan saat mendaki gunung. Tidak bisa disangka ternyata peralatan mendaki lumayan merogoh isi kantong mahasiswa seperti kami –berakit ke hulu berenang ke tepian. Perjalanan dimulai pada sore hari, titik keberangkatan di sebuah terminal Lebak Bulus Jakarta Selatan, naik bus umum jurusan Garut. Ditengah perjalanan saya berjumpa dengan teman – teman pendaki lain, tahun itu jumlah pendaki tidak terlalu banyak seperti sekarang. Sesampainya di Garut tepatnya di terminal Guntur waktu sekitar jam empat shubuh, tidak jauh dari terminal ada sebuah Musholah untuk sekedar istirahat sejenak sambil menunaikan ibadah sholat shubuh. Dari dulu hingga sekarang memang di terminal Guntur ini banyak Calonya harga yang ditawarkan oleh si calo tersebut juga lumayan mahal bagi kami maka dari itu saya mencari opsi lain tentang informasi adakah angkutan lain, akhirnya saya mendapatkan walaupun kami kucing- kucingan dengan si calo itu. Sebelum memulai keberangkatan hal yang pertama saya lakukan adalah memenejemen waktu, logistik, dan budget ke tiga poin tersebut bagi saya bagian penting dalam sebuah perjalanan kemanapun. Dari Terminal Guntur Garut, saya masih harus menggunakan dua moda transportasi untuk mencapai titik awal pendakian di Gunung Papandayan. Pertama menuju pertigaan Pasar Cisurupan dan kemudian lanjut ke arah Camp David. Camp David merupakan titik awal sebelum melakukan pendakian. Tidak butuh waktu lama untuk sampai lokasi camp kurang lebih dua sampai tiga jam untuk mendirikan tenda dan beristirahat sambil menikmati kicauan burung serta udara segar.
Baru pertama kalinya merasakan menjadi manusia yang bebas pada saat itu, lepas dari segala macam problema kota serta dunia kampus yang isinya hanya tugas, tugas dan tugas. Saya merasakan masa – masa kecil yang hilang pada saat itu dan mengulangnya kembali pada saat mendaki gunung, seakan akan tidak ada beban pada kami jiwa – jiwa muda. Diluar itu ternyata mendaki gunung itu mengajarkan kemandirian, kesederhanaan, melawan rasa takut, menghargai ciptaan tuhan yang maha kuasa atas segalanya, dan memahami kalo kita sebagai manusia itu kecil dimata tuhan. Tidak menutup kemungkinan kalau saya mencintai kegiatan mendaki gunung.
Seperti kata Soe Hok Gie ;
“Dunia itu seluas langkah kaki. Jelajahilah dan jangan takut melangkah. Hanya dengan itu kita bisa mengerti kehidupan dan menyatu dengan ”
“Seseorang hanya dapat mencintai sesuatu secara sehat kalau ia mengenal objeknya. Dan mencintai tanah air Indonesia  dapat ditumbuhkan dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya dari dekat. Pertumbuhan jiwa yang sehat dari pemuda harus berarti pula pertumbuhan fisik yang sehat. Karena itulah kami naik gunung”
Dari Gie saya lebih mengenal arti dari sebuah hidup. Jikalau Gie sampai sekarang masih hidup ingin rasanya bertemu dan berbagi cerita bersamanya. Tulisannya yang membangkitkan para pembacanya, membuat sosok Gie benar – benar masih hidup. Kecintaannya pada alam hingga akhir dari hidupnya pun di alam. Lembah Kasih Mandalawangi, Gunung Pangrango tempat Favorite Gie yang membuat saya juga mencintai tempat itu dari kesunyiannya yang mampu membuat kita berpikir dari segala macam problema. Hampir setiap tahun saya mengunjungi tempat itu sekedar mengenang sosok Gie dan melepas lelah dari segala penak yang selalu hadir tanpa diundang.
Banyak sekali untuk sekarang yang harus di benahi dalam dunia pendakian yang bagi saya adalah merusak alam itu sendiri. Menumpuknya sampah mungkin salah satu yang sulit buat diatasi dan perlengkapan pendakian serta kurangnya pengalaman bagi si pendaki itu yang kurang memahami betapa pentingnya berada di alam lepas, terkadang meremehkan hal itu. Tidak banyak dari sekian berita yang selalu beredar setiap hari mengabarkan kabar duka di dunia pendakian.
Berharap untuk kedepannya untuk bekal anak cucu semoga kita sebagai pegiat alam lebih memperhatikan alam itu sendiri, dengan tidak membuang sampah sembarangan salah satu cara untuk mempertahankan kealamian alam tersebut. Berpergian untuk mendaki gunung bersama orang yang berpengalaman itu lebih baik untuk mengantisipasi kejadian – kejadian yang tidak diinginkan. Sebagaimana itu semua untuk kebaikan kita semua dan generasi yang akan datang, toh menjaga alam pula menjaga kelangsungan hidup orang banyak. Dengan kita menjaga nya dan merawat serta melestarikan sama saja bekal pahala untuk kita.