Langsung ke konten utama

RUMAH SAKIT TEMPAT ORANG - ORANG SAKIT



Februari 2018 tak berkesan, kabar dari kerawang tentang kecelakaan. Pong adalah ade sepupu Saya, belum beberapa lama bekerja di salah satu Perusahaan ternama di Karawang. Jarak bukan jadi masalah baginya untuk menata masa depan, mempunyai pengalaman dan niat untuk membahagiakan kedua orang tua. Namun sial, musibah melanda dirinya yang baru merasakan empat bulan di dunia kerja.
Tepat tiga hari setelah ulang tahun Saya. Pong mendapatkan musibah menabrak truk setelah sepulang kerja. Saya bergegas menuju Rumah Sakit. Menurut kabar dari rekan sekantornya yang menolong Pong saat kejadian; “Tidak ada saksi mata ditempat kejadian. Kita bersama rekan – rekan yang lain melihat sudah tak sadarkan diri dan tubuhnya tergeletak di badan belakang truk”.
Nasi sudah menjadi bubur. Pong, harus menjalani Operasi dua tahap dibagian Kepala. Keluarga di persilahkan menandatangani berkas yang disediakan dan beberapa masukan oleh Dokter yang menanganinya. Proses operasi berjalan lancar walaupun waktu yang ditentukan tidak sesuai dengan jadwal. Sebelas hari Pong dirawat, 2 hari di ICU dan sisanya di R Rawat.
Saya berperan menjadi perawat dadakan, berbekal kewarasan hidup. Kurang lebih dua minggu saya menjalani peran tersebut. Tidak ada enaknya mengurus orang sakit, bisa – bisa kita yang menjadi sakit. Karna mungkin pola tidur dan makan yang tidak teratur bisa menjadi faktor utama menjadi perawat dadakan yang tidur beralas tikar.
Berkat rahmat Allah SWT serta semangat hidup yang luar biasa. Pong, masih dikasih pilihan hidup sampai sekarang dalam proses tahap pemulihan. Semoga lekas terus merawat sehat.
Saya merindukan rumah…
Maret tiba, setelah kurang lebih 24 jam merasakan tempat kelahiran dan tempat tinggal. Saya kembali ke Rumah Sakit, bukan untuk mengantar Pong kembali ke RS Karawang atas keluhan sakitnya atau sebagai dokter panggilan yang mempunyai jadwal kerja di jam dan tempat berbeda. Ade kandung saya mendapat rujukan dari puskesmas untuk berkemas menuju UGD karna penyakit dalam yang diderita sejak dua bulan lalu.
Bagi Saya sendiri Rumah Sakit adalah rancu, banyak macam derita jika masuk pemeriksaan, di lain sisi sebagai ajang bisnis. Awal ade Saya mengeluhkan sakit di bagian perut, setelah melalui pemeriksaan di UGD, ternyata ada derita yang lain, yaitu Flek yang berada di paru- paru yang harus ditangani pula.
Ada sebagaian cerita yang lucu dari RSUD ini. Sebelumnya bersama ade dan ibu saya mendapat rujukan dari Puskesmas untuk pemeriksaan USG di RSUD. Dari pihak Puskesmas menyarankan untuk datang lebih awal atau pagi hari. Benar saja Saya menyaksikan sendiri antrian panjang untuk konsultasi dengan dokter tertentu untuk memberitahu dan mengarahkan calon pasien baiknya seperti apa. Mungkin tidak jauh dari sebuah pasar atau acara konser bahkan pertandingan sepakbola. Demi berobat GRATIS! Pasien kritis.
Setelah menunggu antrian yang berjam – jam dengan menahan sakit, akhirnya sampai pada tahap konsultasi dan pemeriksaan kepada Dokter yang bersangkutan. Lucu ketika mendengar seorang dokter berkata “Oh ini tidak apa – apa, kalau untuk masalah perut keras. Perut saya pun juga keras (kebetulan derita yang dialami adik saya pada bagian perut menjadi keras tidak seperti orang normal) Untuk pemeriksaan USG, saya buatkan jadwal untuk 2 minggu kedepan”
Bagi pandangan orang yang waras, ini adalah suatu tindakan yang aneh bagi sang dokter kepada pasien dan bagi pandangan si pasien yang sakit ini adalah tindakan yang sangat perih, karna harus menahan sakit sampai pemeriksaan kembali 2 minggu kedepan. “JADI SIAPA YANG SAKIT?”
Apa karna persoalan uang, untuk mendapatkan pelayanan terbaik? Dan memang nyatanya Rumah Sakit masih memprioritaskan pemilik modal dan pintar bersembunyi dengan alasan – alasan tidak masuk akal.
Kembali ke sakit yang dirasakan adik saya. Mencari Rumah Sakit lain menjadi pilihan. Namun karna keterbatasan alat untuk pengecekan bagian perut yang sakit di Rumah Sakit swasta tersebut. Pada akhirnya mendapat rujukan kembali ke RSUD bedanya tidak mengantri karna di lembar kertas rujukan tertera untuk bagian UGD.
“UGD penuh pasien kalau ibu tidak keberatan, ibu bisa mencari Rumah Sakit lain. Namun kalau ibu, memilih untuk anak ibu ini tetap di UGD untuk sementara duduk di kursi roda.” Ungkap seorang dokter kepada ibu saya yang lemas karna energi nya terkuras bolak – balik mencari wadah buat adik saya.
Duduk di kursi roda untuk sementara menjadi pilihan bagi adik saya untuk mendapatkan tindakan dan pelayanan atas sakit yang di rasa. Menunggu jatah kasur empuk derita yang telah di kosongkan si penidurnya.
Pahit menjadi pasien asuransi daerah. Sungguh pelayanan berbanding miring dari pasien pemilik modal atau asuransi yang berkelas. Disisi lain saya mengapresiasikan Pemerintah Daerah yang masih peduli akan kesehatan masyarakatnya, dengan begitu masyarakat pinggiran yang teriak sakit bisa meredakan rasa sakitnya walaupun agak sedikit miring dan harus ada pembenahan di dalamnya.
Bicara tentang pelayanan, mungkin sedikit kurang. Karna adik saya harus menunggu dokter spesialis sampai tiga hari tanpa kejelasan. Jika menilai sisi kemanusiaan dokter pun juga manusia. Saya bilang RSUD krisis dokter, ada pasien yang butuh tindakan dan kejelasan di suruh menunggu dua – tiga hari dengan waktu yang tidak jelas, beralasan “(sabtu-minggu) dokter libur, ungkap seorang perawat muda yang kosong kepala”
Apa bisa dikatakan salah satu penyebab kematian seseorang itu karna Dokter atau Rumah Sakit yang mempunyai wadah bagi orang sakit? mari berfikir sehat. Maka dari itu teruslah merawat sehat “Sakit jangan di rawat” Rumah Sakit isinya orang – orang sakit, yang datang karna sakit, di tangani bagian yang sakit, yang menunggu sakit bisa juga terkena sakit, semua bisa sakit karna Rumah Sakit.