Sejak
kecil memang suka beradaptasi dengan alam, ruang lingkup yang asri dengan
pemandangan sawah lepas serta pepohonan rindang menjadi salah satu wadah
bermain atau melepas lelah setelah pulang sekolah ataupun mengisi kegiatan
lain. Saat pagi tiba, kami anak – anak desa waktu itu gemar sekali bermain bola
selapas itu pergi ke sawah untuk mencari ikan atau permainan yang lain. Hal
yang lucu dari masa kecil kami, tidak pernah lepas dari dunia kemah – kemahan.
Pernah suatu ketika membuat suatu gubuk perkemahan karna kecerobohan menaruh
lilin api akhirnya kebakaran. Bagi kami kejadian seperti itu sudah biasa, jadi
kami siap antisipasi dengan cara memadamkan api dan membangun kemah kembali. Namanya
juga anak kecil hal semacam itu terkadang menjadi bahan lucu – lucuan atau
kemungkinan saat dewasa nanti bisa menjadi bagian dari pemadam kebakaran karna
masa kecil kami suka memadamkan kebakaran gubuk kemah – kemahan, namun sampai
dewasa ini belum ada yang terlihat menjadi salah satu anggota pemadam kebakaran
tersebut.
Masa
– masa kecil kami memang tidak lepas dari permainan sepakbola, karna hampir
menjelang sore hari kami berkumpul untuk bermain bola, malam harinya di
lanjutkan permainan petak umpet atau kegiatan berkumpul membuat api unggun
sambil memasak ubi. Kami tidak terlalu terpaku pada handphone saat itu,
pertemuan kami didasarkan oleh pengingatan. Seakan – akan pada masa itu wadah
untuk bermain tidak kehabisan tempat bagi kami, apa saja yang di mau pasti ada.
Contohnya dari segi makanan, hampir setiap buah – buahan di desa kami itu ada,
kalau mau tinggal petik namun dengan satu syarat ijin dengan pemiliknya.
Bagi
saya hal semacam itu sudah tidak ada di desa kami sekarang, hampir setiap lahan
bermain di jadikan bangunan ataupun rumah – rumah penduduk serta perumahan
elite. Waktu menginjak dunia Sekolah Menengah Pertama, demi mengirit ongkos. Kami
memotong jalan melewati pepohonan rindang serta kuburan dan aliran sungai yang
terkadang airnya naik sampai kepermukaan tinggi, karna itu kami suka terhambat
dengan keadaan itu yang pada akhirnya terpaksa mengeluarkan ongkos untuk
menaiki angkutan umum. Saat banjir tiba pun, kami luangkan waktu untuk
memancing ikan. Hal semacam itu tidak pernah terlawatkan saat hari jum’at tiba,
selepas sekolah kami membawa pancingan, ditinggal di tepi sungai, sampai saat
selesai jam pelajaran dan waktunya pulang, kami mencari ikan dan berbagi tugas
siapa yang memetik kelapa sebagai ajian pelengkap menunggu hasil umpan pancing
dimakan ikan.
Saya
adalah salah satu bagian dari anak – anak masa itu yang menyukai kegiatan alam
lepas serta dunia perkemahan. Dari permaianan sepada – sepedaan tril yang
jalurnya pun kami yang buat sendiri, bermalam di gubuk petani di tengah sawah
sambil memancing sampai membuat acara perkemahan. Saat menginjak Sekolah Dasar
kelas enam, saya pernah mengikuti acara kegiatan persami di sekolah, karna
udara di sekolah saya waktu itu pengap dan panas, akhirnya saya putuskan untuk
keluar dari acara itu. Karna menurut saya, acara tersebut tidak menyajikan
suatu kenyamanan berdaptasi di alam lepas, udara segar, serta kegiatan yang
berbau alam lainnya.
Saat
menjalang malam tiba, kami berkumpul dan merencanakan permainan apa saja dari
petak umpet sampai mencari belut di tengah sawah dan kami bakar ketika
mendapatkan hasil. Kegiatan semacam itu menjadi kebiasaan setiap malam saat
libur sekolah tiba. Karna bakat alam yang di miliki sejak kecil, sejak
menginjak usia dewasa kami suka berpergian ke puncak – puncak gunung, dari
jawa, sumatera, sampai nusa tenggara kami jelajahi hanya karna selalu
merindukan udara sejuk pegunungan dan kebersamaan seperti masa – masa kecil
dahulu. Hanya dari sebagian kami yang
masih menggeluti kegiatan tersebut karna banyak dari kami yang menjadi pegawai
rendahan mungkin karna kebutuhan hidup yang memaksa untuk menjadi seperti itu
yang mempunyai waktu sempit untuk berkumpul dan setengah hidupnya hanya menjadi
bagian dari perusahaan yang mempekerjakannya.
Sebab
ekonomi selalu merubah bentuk – bentuk seseorang, masa bermain sepertinya di
anggap suatu lelucon, kebebasan baginya fana, sifat tidak pernah puas selalu
mengejar kebutuhan yang tidak ada habisnya, terkadang urusan cinta saat dewasa
juga merasuki perubahan, tidak ada kata bermain, baginya waktu adalah uang,
mengejar pasangan hidup yang katanya kebutuhan yang harus, menutup mata kanan
kiri katanya sedang fokus, semua terlihat serius sisanya tidak lucu, melupakan
segala hal perkumpulan, berdiskusi, canda tawa, berpergian, berpetualang dan
bermain. Apakah memang jalan hidup seperti itu? Besar kecil memang tak sama,
namun selalu terselip kerinduan, menjadi munafik juga bukan suatu pilihan kalau
ternyata hidup itu akan terus berjalan dengan kebutuhan – kebutuhan baru, lambat
atau cepat akan merasuki fase tersebut menjadi dewasa yang di tertawakan masa
kecil.